Dara dan Raka April 26, 2010
Posted by ivanlukather in Uncategorized.add a comment
Sebuah senja yang sempurna, sepotong donat, Dan lagu Cinta yang lembut. Adakah yang lebih indah dari itu, bagi sepasang Manusia yang memadu kasih? Raka Dan Dara duduk di punggung senja itu, berpotong Percakapan lewat, Beratus tawa timpas, lalu Dara pun memulai meminta kepastian. Ya,tentang Cinta.
Dara : Siapa yang paling kamu cintai di dunia ini?
Raka : Kamu dong?
Dara : Menurut kamu, aku ini siapa?
Raka : (Berpikir sejenak, lalu menatap Dara dengan Pasti) Kamu tulang Rusukku! Ada tertulis, Tuhan melihat bahwa Adam Kesepian. Saat Adam Tidur, Tuhan mengambil rusuk dari Adam Dan menciptakan Hawa. Semua pria mencari tulang rusuknya yang hilang Dan Saat menemukan Wanita untuknya, tidak lagi merasakan sakit di hati.”
Setelah menikah, Dara Dan Raka mengalami masa yang Indah Dan manis untuk Sesaat. Setelah itu, pasangan muda ini mulai tenggelam Dalam kesibukan Masing-masing Dan kepenatan hidup yang kain mendera. Hidup mereka Menjadi membosankan. Kenyataan hidup yang kejam membuat mereka mulai Menyisihkan impian Dan Cinta satu sama lain. Mereka mulai bertengkar Dan Pertengkaran itu mulai Menjadi semakin panas. Pada suatu Hari, pada akhir Sebuah pertengkaran, Dara lari keluar rumah. Saat tiba di seberang jalan, Dia berteriak, “Kamu nggak cinta lagi sama aku!” Raka sangat membenci Ketidakdewasaan Dara Dan secara spontan balik berteriak, “Aku menyesal Kita Menikah! Kamu ternyata bukan tulang rusukku!”
Tiba-tiba Dara menjadi terdiam , berdiri terpaku untuk Beberapa saat. Matanya basah. Ia menatap Raka, seakan tak percaya Pada apa yang telah Dia dengar. Raka menyesal akan apa yang sudah dia ucapkan. Tetapi Seperti air yang Telah tertumpah, ucapan itu tidak mungkin untuk Diambil kembali. Dengan berlinang air Mata, Dara kembali ke rumah Dan Mengambil Barang-barangnya, bertekad untuk berpisah. “Kalau aku Bukan tulang rusukmu, biarkan aku pergi. Biarkan Kita berpisah Dan Mencari pasangan Sejati masing-masing.”
Lima tahun berlalu. Raka tidak menikah lagi, tetapi berusaha mencari tahu Akan kehidupan Dara.. Dara pernah ke luar negeri, menikah dengan orang Asing, bercerai, Dan Kini kembali ke kota semula. Dan Raka yang tahu semua Informasi tentang Dara, merasa kecewa, karena dia tak pernah diberi Kesempatan untuk Kembali, Dara tak menunggunya. Dan di tengah malam Yang sunyi, Saat Raka meminum kopinya, IA merasakan Ada yang sakit Di dadanya. Tapi dia tidak sanggup mengakui bahwa dia merindukan Dara. Suatu Hari, mereka akhirnya kembali bertemu. Di Airport, di tempat Ketika banyak terjadi pertemuan Dan perpisahan, mereka Dipisahkan hanya Oleh sebuah dinding pembatas, Mata mereka tak saling Mau lepas.
Raka : Apa kabar?
Dara : Baik… Ngg.., apakah kamu sudah menemukan
Rusukmu yang hilang?
Raka : Belum.
Dara : Aku terbang ke New York dengan penerbangan Berikut.
Raka : Aku akan kembali 2 minggu lagi. Telpon aku Kalau kamu sempat. Kamu tahu nomor telepon Kita, belum Ada yang berubah. Tidak akan Ada Yang berubah. Dara tersenyum manis, lalu Berlalu….”Good bye….”
Seminggu kemudian, Raka mendengar bahwa Dara mengalami Kecelakaan, mati. Malam itu, sekali lagi, Raka mereguk kopinya Dan Kembali merasakan sakit Di dadanya. Akhirnya dia sadar bahwa sakit itu adalah
Karena Dara, Tulang rusuknya sendiri, yang telah dengan bodohnya Dia patahkan. “Kita melampiaskan 99% kemarahan justru kepada orang Yang paling Kita Cintai. Dan akibatnya seringkali adalah fatal”
Moral: You never know what you have until you lose it!
Famous Failure April 26, 2010
Posted by ivanlukather in Uncategorized.add a comment
“Peristiwanya tidaklah penting.
Tapi, respon pada peristiwa itu adalah segala-galanya” (I Ching).
Kegagalan menjadi teman akrab dalam kehidupan kita. Siapa yang merasa tidak pernah mengalami kegagalan dalam hidup barang sekalipun? Hampir dipastikan nol persen. Ada beragam sikap menghadapi kegagalan. Sering dalam menghibur kawan yang gagal, kita melontarkan ucapan umum, seperti “kegagalan adalah sukses yang tertunda” atau “kegagalan adalah awal kesuksesan” dan sebagainya. Tentu saja, mantra positif itu diucapkan dengan tulus dan menambah semangat. Namun, kalimat itu sering kita pakai lantaran kita tidak tahu apa yang harus kita katakan. Jadi, sekadar menghibur.
Sebenarnya, memiliki perbendaharaan dan frame positif tentang kegagalan merupakan salah satu benteng kokoh menghadapi serangan ‘virus kegagalan’ dalam hidup kita. Sejarah mempunyai seribu satu bukti. Banyak tokoh dunia sukses bukan karena mereka tidak pernah gagal. Tetapi, bagaimana mereka merespon, berpikir, bertindak, dan menyikapi kegagalan itulah yang justru mengantarkan mereka pada puncak kesuksesan. Jatuh bangun adalah proses biasa dalam meraih kesuksesan. Seperti puncak gunung tak akan dicapai tanpa melalui jalan naik-turun nan terjal. Bahkan, belukar dan kebuntuan jalan.
Setiap dari kita, termasuk Anda, perlu memiliki sebuah perbendaharaan atau pun referensi yang bisa kita jadikan pegangan saat mengalami kegagalan. Winston Churchill misalnya. Ia mengaku doyan membaca biografi tokoh terkenal saat semangatnya sedang turun. Buku itu membuat semangatnya bangkit. Ia merasa diteguhkan saat dirinya lemah dan tak berdaya. Tak heran, salah satu nukilan pidatonya yang populer “Never Give Up” bisa jadi berasal dari penggalian inspirasi buku-buku itu. Memang, semangat itu menular seperti layaknya kemalasan juga sering menular. Janganlah jemu menimba energi-energi positif dari banyak hal, termasuk dari bacaan.
Kali ini, ada referensi menarik dari Joey Green dalam tulisannya berjudul “The Road to Success is Paved with Failure.” Tulisan Joey Green ini menjadi inspirasi penting untuk menghadapi kegagalan. Green berhasil menuliskan berbagai kisah maupun daftar orang yang sukses secara luar biasa setelah mengalami berbagai kekalahan pahit.
Di bidang bisnis, Joey Green memberi contoh kisah Walt Disney yang sempat saya singgung pekan lalu. Perusahaan animasi pertama Disney pernah pailit. Tapi, Disney mampu bangkit dan betapa besar bisnis hiburan yang ditawarkan dunia Disney sekarang ini. Ada juga Tom Monaghan. Dalam 20 tahun usahanya, ia bangkrut dua kali. Ia kehilangan hak kontrol atas bisnisnya. Ia juga dituntut atas pelanggaran hak cipta. Namun, belakangan bisnisnya malah meroket dengan Domino’s Pizza-nya.
Ada lagi Fred Smith, orang yang hanya mendapat C dalam salah satu proyeknya di Yale saat menuliskan idenya tentang jasa pengiriman semalam. Tapi, nilai itu tidak sebanding dengan Federal Express, industri raksasa pengiriman barang yang mendunia. Padahal ide itu pernah diacuhkan oleh gurunya. Demikian juga perusahaan minuman Coca-Cola. Pada tahun pertama, Coca-Cola hanya mampu menjual 400 botol. Tapi, sekarang Coca-Cola ada di mana-mana. Bahkan, tidak ada satu daerah pun yang boleh dibilang tidak pernah kemasukan penetrasi Coca-Cola ini. Bahkan, gelombang Coca-Cola menjadi simbol nyata globalisasi yang sedang berlangsung.
Sementara itu, Chester Carlson mencoba temuannya ke sekitar 20 perusahaan pada tahun 1940-an. Setelah bertahun-tahun mengalami penolakan, ia berhasil meyakinkan Haloid, perusahaan kecil di Rochester. Haloid kemudian menjadi salah satu perusahaan raksasa untuk mesin fotokopi elektrostatik bernama XEROX Corporation. Ada lagi Henry Ford. Dalam tiga tahun pertama membangun bisnisnya di bidang otomotif, Ford bangkrut dua kali. Namun, kegigihannya membuatnya dikenal dengan simbol mobil-mobil mewah bergengsi.
Selain di bidang bisnis, Joey Green memberi contoh di bidang kesusastraan, perfilman, olah raga, dan nyanyian. Sebut saja Elvis Presley. Gurunya pernah memberinya nilai C dengan nada menghina saat ia duduk di L.C. Humes High School di Memphis. Guru itu mencap dirinya sama sekali tidak bisa bernyanyi. Tapi, kini Elvis Presley menjadi penyanyi legendaris. Ada Michael Jordan yang pernah ditolak saat mau bergabung dengan klub basket sekolahnya. Tapi, Jordan pun jadi ikon bola basket legendaris.
Beatles juga pernah ditolak pada tahun 1962 oleh dapur rekaman Decca, Pey, Philips, Columbia, dan HMV Labels. Juga Sigmun Freud yang buku karyanya hanya laku 600 buah dengan mengantongi royalti sebesar 250 dolar. Tapi, Freud dikenang sebagai Bapak Psikologi ternama. Aktor Sylvester Stallone semasa kecil pernah dikeluarkan dari 13 sekolah dalam rentang 11 tahun. Profesornya di Universitas Miami mengolok-olok dirinya tidak berbakat akting. Ia juga manjadi bahan tertawaan saat memainkan peran di film Dog Day Afternoon, Serpico, dan The GodFather. Naskah filmnya Rocky ditolak oleh nyaris semua perusahaan. Tapi, sebuah perusahaan menerimanya dengan syarat Stallone tidak boleh main di dalamnya.
Ada lagi Rudyard Kipling. Ia pernah menulis cerita dan mengirimkannya ke sebuah surat kabar di California pada tahun 1888. Tapi, sang editor menolak. “Maaf Mr. Kipling. Anda tampaknya tidak tahu bagaimana menggunakan Bahasa Inggris dengan baik,” kata editor itu. Belakangan, ia merupakan salah satu peraih nobel di bidang sastra pada tahun 1907.
Nah, masih banyak contoh lainnya. Anda pun bisa melihat sendiri orang-orang serupa di sekitar Anda. Ada satu benang merah yang menarik. Saat Anda mengalami kegagalan, jangan kalang kabut. Jangan biarkan energi Anda habis terkuras hanya karena terbekap kegagalan. Sungguh sangat arogan jika kita selalu berharap semua berjalan mulus tanpa kendala. Nah, ambilah medali kemenangan dari setiap kegagalan yang kita alami. Kita tidak mungkin sukses tanpa memiliki keberanian untuk gagal.
Lihatlah mereka yang sukses itu. Mereka melewati berbagai tantangan dan kesulitan dengan jiwa besar. Kegagalan paling buruk adalah mereka yang mencoba, lalu kalah dan menyerah. Dag Hammarskjold pernah bilang, jangan pernah mengukur tinggi sebuah gunung sebelum Anda mencapai puncaknya. Karena, Anda kemudian akan melihat betapa rendahnya gunung itu. Tak ada kata menyerah!
By: Anthony Dio Martin
Cerita 3 Coca Cola April 26, 2010
Posted by ivanlukather in Uncategorized.add a comment
Ada sebuah cerita. Alkisah, ada 3 Coca Cola yang baru saja dikeluarkan dari Pusat distribusi Coca Cola Distribution Indonesia. Truk pun pergi bergegas membawa coca cola itu. Lalu sampailah mereka di jajanan kaki lima, Coca cola pertama diturunkan dan dijual ke tukang Ropang dan STMJ, lalu saat pembeli mau beli harganya Rp. 1500
Truk terus berjalan, menuju ke Alfa Mart, setelah diturunkan, Coca cola diberi label, Rp 4500. Terakhir, truk pergi lagi menuju Pacific Place. Disana Coca Cola diturunkan, dimasukkan ke kulkas, dan begitu ada pembeli minta, dia dimasukkan ke gelas Kristal, tidak lupa dengan es batu, dan disajikan bersama Foie Gras atau Le Cabillaud, harga satu gelas Rp, 25000.
Pertanyaannya, bedakah Coca Cola nya? Tidak. Sumbernya sama, kalengnya sama, kandungan nya sama, kenapa bisa beda harganya. TEMPATNYA!!!!!
Bedanya Coca Cola dengan kita adalah, coca cola nasibnya tergantung si pengantar dan si truk. Coca Cola ga bisa pilih dia mau ditaruh di mana dan dipasangi harga berapa. Kita orang dan kita bisa memilih, kondisi apa yang ingin kita ditempatkan.
Ini berbicara lebih jauh soal how we value ourselve, how we see the price tag on ourself. Dalam kerja saya sebagai recruiter, I see a lot of MBA’s with less than Rp 10 million per month, but I see also lulusan SMA as Multinational Company Country Manager or even President Director.
Apa yang membuat perbedaan? How they value themselves. People who value themselves high will,
1. Mingle with people who have equal value with them, or at least people who understand their value.
2. Not undervalue themselves, and accepting offer or treatment LESS than what they should have
3. Proficient in their skills that add value to other people/ company, and deliver the value with highest excellence which represent their value.
4. BELIEVE in what they are doing and BELIEVE in their value, although a lot of people try to UNDERVALUE them by bargain, or cornering or anything.
Think about Coca Cola, berapa sich harga aslinya. Mungkin Rp.1000, mungkin ga si Coca Cola ditawar. By right yes, but beranikah anda nawar harga coca cola di hotel bintang lima ? Why? Because RIGHT POSITION MENENTUKAN YOUR PERCEIVED VALUE!!
HOW YOU POSITION YOURSELF DECIDES YOUR REAL VALUE!!
HOW YOU BELIEVE IN YOURSELF WILL DECIDE HOW OTHER PEOPLE WILL BELIEVE IN YOU.
So how much is your value?? You decide…
Seharusnya VS Keharusan April 26, 2010
Posted by ivanlukather in Uncategorized.2 comments
Ada beda yang sangat besar antara sebuah “Keharusan” dan “ Seharusnya. Mereka ingin langsing, seharusnya saya langsing, TAPIII kalau tidak tercapai ya OK. Mereka ingin kaya, TAPII kalo ga kaya ya ga keberatan juga. Jika hidup itu cuma “seharusnya” dan bukan sebuah “keharusan”, anda akan selalu menemukan alasan untuk menundanya dan ujung2nya melepaskannya.
Renungkan cerita di bawah ini:
Anda pasti kenal Sylvester Stallone, salah satu bintang termahal Hollywood dengan bayaran $20 juta per film. OK inilah kehidupannya. Saking miskinnya, mamanya melahirkan dia di tangga pintu sekolah. Sebuah pukulan dari temannya membuat dia menderita kelainan saraf pada mukanya, sehingga sisi kanan wajahnya tidak normal. Jika bicara, ujung bibirnya tertarik ke bawah, dan membuat bicaranya gagap.
Pertama2 dia mendaftar di sekolah acting, dan mengikuti audisi. Dapat diduga, dengan penampilan kaku, bicara gagap, Stallone selalu ditolak , tapi dia tidak menyerah. Even, cara dia mendapat peran pertamanya pun unik. Dia duduk di depan kantor manajer sampai berjam2 dan menolak pergi kalau tidak diberi kesempatan. Akhirnya manajer pun kasihan dan memberi peran kecil padanya.
Saking dia ga punya uang, dia terpaksa jual anjingnya seharga US$ 50, padahal anjing itu adalah satu2 nya temannya. Pada titik terendahnya, dia menonton pertandingan tinju antara Muhammad Ali dan Chuck Wepner. Banyak orang menduga Chuck bakal jatuh dalam tiga ronde, ternyata Chuck mampu bertahan 15 ronde tanpa jatuh, walau akhirnya kalah. Disinilah Stallone mendapat inspirasi untuk menulis naskah “Rocky” selama 84 jam, straight tidak tidur.
Saat dia akan menjual manuskripnya, orang bilang ceritanya monoton dan ga mau ada yang beli. Sampe satu perusahaan akhirnya mau membeli seharga $75,000. Tapi Stallone (Sly) hanya mau menjual dengan syarat Stallone harus menjadi pemeran utamanya. Perusahaan ini menolak, bahkan menaikkan penawarannya jadi $225,000 dan sampe $ 1 juta. Stallone tetap menolak, dia tidak mau mimpinya ditukar even dengan enam digit angka, dan keadaan dia saat itu sedang sangat butuh duit.
Akhirnya, perusahaan itu setuju. Film dibuat dengan anggaran ketat 1 juta dollar dan Stallone hanya menerima $35,000 untuk gaji main film itu. Selain itu Sly akan mendapat tambahan berdasarkan persentase penghasilan di pasar.
Pada waktu film “ Rocky” diluncurkan, film itu hit box office dengan total revenue $171 juta, 10 nominasi Academy Awards dan satu piala Oskar. Spontan Sly melejit dan langsung mendapat tawaran Rambo, First Blood dan Sequel Rocky.
Apa moralnya? Orang2 seperti Sly ( Stallone), Steven Spielberg dan Donald Trump bukan karena sekedar disiplin, focus ataupun lebih beruntung. Bagi mereka, sukses adalah harga MATI! Saya HARUS sukses atau saya mungkin besok tidak akan melihat matahari lagi. Sukses bukan hanya seharusnya bagi orang2 ini tapi KEHARUSAN, or else I die tomorrow!!
Coba pikir, anda mau ujian besok dan belum belajar. Ketika anda jam 5 pagi bangun, dan teriak, “Aduuuhhh, saya belum belajar, ujian jam 9 dan bahan ada 4 buku setebal kitab suci”, kepanikan anda akan memancing kata2,” aduh, HARUS belajar atau ga lulus.” Kondisi emosi yang dihasilkan akan beda kalo ternyata anda tiba2 tahu, ah ujiannya masi seminggu lagi ternyata, salah liat jadwal.
Betapa arti sebuah kata HARUS itu bisa menentukan, apakah anda siap “die hard” untuk sesuatu yang benar2 anda inginkan? So now, is your choice, whether anda seharusnya sukses?? Atau anda HARUS sukses? You decide
Salam Sukses
4 Tipe Orang April 25, 2010
Posted by ivanlukather in Uncategorized.add a comment
Hidup memang tidak lepas dari berbagai tekanan. Lebih-lebih,hidup di alam modern ini yang menyuguhkan beragam risiko.
Tekanan itu sesungguhnya membentuk watak, karakter, dan sekaligus menentukan bagaimana orang bereaksi di kemudian hari.
Ada 4 tipe orang dalam menghadapi berbagai tekanan tersebut. :
1. Tipe Kayu Rapuh
Sedikit tekanan saja membuat manusia ini patah arang. Orang macam ini kesehariannya kelihatan bagus. Tapi, rapuh sekali di dalam hatinya. Orang ini gampang sekali mengeluh pada saat kesulitan terjadi. Sedikit kesulitan menjumpainya, orang ini langsung mengeluh, merasa tak berdaya, menangis, minta dikasihani atau minta bantuan. Orang ini perlu berlatih berpikiran positif dan berani menghadapi kenyataan hidup.
Majalah Time pernah menyajikan topik generasi kepompong (cacoon generation). Time mengambil contoh di Jepang, di mana banyak orang menjadi sangat lembek karena tidak terbiasa menghadapi kesulitan.
Menghadapi orang macam ini, kadang kita harus lebih berani tega. Sesekali mereka perlu belajar dilatih menghadapi kesulitan. Posisikan kita sebagai pendamping mereka.
2. Tipe Lempeng Besi
Orang tipe ini biasanya mampu bertahan dalam tekanan pada awalnya. Namun seperti layaknya besi, ketika situasi menekan itu semakin besar dan kompleks, ia mulai bengkok dan tidak stabil. Demikian juga orang-orang tipe ini. Mereka mampu menghadapi tekanan, tetapi tidak dalam kondisi berlarut-larut.
Tambahan tekanan sedikit saja, membuat mereka menyerah dan putus asa. Untungnya, orang tipe ini masih mau mencoba bertahan sebelum akhirnya menyerah. Tipe lempeng besi memang masih belum terlatih. Tapi, kalau mau berusaha, orang ini akan mampu membangun kesuksesan dalam hidupnya.
3. Tipe Kapas
Tipe ini cukup lentur dalam menghadapi tekanan. Saat tekanan tiba, orang mampu bersikap fleksibel. Cobalah Anda menekan sebongkah kapas. Ia akan mengikuti tekanan yang terjadi. Ia mampu menyesuaikan saat terjadi tekanan. Tapi, setelah berlalu, dengan cepat ia bisa kembali ke keadaan semula. Ia bisa segera melupakan
masa lalu dan mulai kembali ke titik awal untuk memulai lagi.
4. Tipe Bola Pingpong
Inilah tipe yang ideal dan terhebat. Jangan sekali-kali menyuguhkan tekanan pada orang-orang ini karena tekanan justru akan membuat mereka bekerja lebih giat, lebih termotivasi, dan lebih kreatif.
Coba perhatikan bola pingpong. Saat ditekan, justru ia memantuk ke atas dengan lebih dahsyat. Saya teringat kisah hidup motivator dunia Anthony Robbins dalam salah satu biografinya.
Untuk memotivasi dirinya, ia sengaja membeli suatu bangunan mewah, sementara uangnya tidak memadai. Tapi, justru tekanan keuangan inilah yang membuat dirinya semakin kreatif dan tertantang mencapai tingkat finansial yang diharapkannya.
Hal ini pernah terjadi dengan seorang kepala regional sales yang performance- nya bagus sekali. Tetapi, hasilnya ini membuat atasannya tidak suka. Akibatnya, justru dengan sengaja atasannya yang kurang suka kepadanya memindahkannya ke daerah
yang lebih parah kondisinya. Tetapi, bukannya mengeluh seperti rekan sebelumnya di daerah tersebut. Malahan, ia berusaha membangun netwok, mengubah cara kerja, dan membereskan organisasi. Di tahun kedua di daerah tersebut, justru tempatnya berhasil masuk dalam daerah tiga top sales.
Contoh lain adalah novelis dunia Fyodor Mikhailovich Dostoevsky.
Pada musim dingin, ia meringkuk di dalam penjara dengan deraan angin dingin, lantai penuh kotoran seinci tebalnya, dan kerja paksa tiap hari. Ia mirip ikan herring dalam kaleng. Namun, Siberia yang beku tidak berhasil membungkam kreativitasnya.
Dari sanalah ia melahirkan karya-karya tulis besar, seperti The Double dan Notes of The Dead. Ia menjadi sastrawan dunia.
Di Indonesia, seorang professional yang bekerja di sebuah perusahaan otomotif terbesar di Indonesia dikucilkan bahkan dibuang kecabang nun jauh dari kantor pusat oleh si Boss yang seorang wanita . Namun dengan motivasi kuatnya dia berhasil ” ditarik ” kembali ke kantor pusat dan malah bertugas ” meng ” guide ” departemen sang Boss untuk beberapa materi development dengan ilmu yang dimilikinya .
Sekarang sang rekan malah sudah menduduki posisi puncak dengan wewenang diatas sang boss yang mengucilkannya , walaupun di perusahaan otomotif kompetitor.
Bagaimana reaksi Anda? Tidak menjadi persoalan di mana Anda saat ini.
Tetapi, yang penting bergeraklah dari level tipe kayu rapuh ke tipe selanjutnya. Hingga akhirnya, bangun mental Anda hingga ke level bola pingpong.
Sekuat itukah mental Anda?
Professor Dan Tukang Perahu April 25, 2010
Posted by ivanlukather in Uncategorized.add a comment
Alkisah ada seorang professor. Dia memutuskan untuk naik ke sebuah perahu. Di pinggir pinggir, sungai, dia melihat ada bebatuan dan pasir2, lalu dia bertanya kepada tukang perahu. “ Pak, mengertikah anda tentang Geologi?”, jawab si tukan perahu, “ Saya denger namanya aja baru sekarang, Pak”. Lalu si professor menjawab, “ Wah, semua unsur2 dunia ini bisa dipahami dengan geologi, anda sudah kehilangan 25% hidup anda dengan tidak mengerti ini.”
Lalu sambil meneruskan perjalanan diiringi aliran sungai, Professor kembali bertanya, “ bapak tahu Fisika?” Tukang perahu menjawab, “ Tidak. Pak”. Lalu si Professor kembali bilang, “ Wah anda sudah kehilangan 50% hidup anda, dunia ini dan mekanisme nya semua pake fisika”.
Lalu Professor melihat gunung2 di kejauhan dan kembali bertanya, “ Bapak, ngerti Geografi?” . Tukang perahu pun jawab,” saya lebih ga ngerti itu pak”. Wah, anda benar2 ga punya hidup, 75% hidup anda udah ga ada dengan ga ngerti apa2 soal dunia ini,”
Lalu makin lama arus sungai tambah deras, dan mereka menuju ke air terjun, tukang perahu tanya, “ Bapak, bisa berenang?”.. Si professor dengan muka takut bilang, “ ga bisa pak.” Tukang perahu jawab, “ wah bapak PASTI 100% akan kehilangan hidup bapak sekarang, sambil lompat dan berenang ke pinggir.”
Seperti sungai tersebut, kita hidup di zaman yang cepat dan evolusioner. Zaman dulu diperlukan 50 tahun untuk menemukan pita kaset. Kurang dari 10 tahun untuk menemukan compact disc, kurang dari 5 tahun untuk menemukan mini disc, dan Cuma perlu 3 tahun untuk menemukan MP3, dan semua yang saya sebut tadi langsung jadi barang antik.
Professional kerja bertahun tahun menimba ilmu dan punya nilai pasar tinggi dapat secara singkat skillnya sudah obsolete. Tahun 90’an, siapa yang ngerti istilah Technopreneurs, Net Nannies, Chief Information Officer, Website Designer. Sederhana saja, 50% pekerjaan yang ada sekarang, sepuluh tahun lagi mungkin sudah tidak akan eksis. Zaman dulu miliuner kepala 5 at least. Sekarang Mark Zuckerberg ( FB), Larry Page and, Sergey Brin ( Google), Robin Li ( Baidu), and Yoshikazu Tanaka (Gree) udah mementahkan semua cerita lama itu.
Sama seperti si professor itu, yes title yang melekat di belakang anda emang penting, tapi kalo hanya itu saja andalan anda, mending siap2 lah untuk tenggelam dalam air terjun kehidupan. Bukan hanya hebat soal teori saja, tapi bagaimanakah level of adaptability anda dalam dunia yang bergerak cepat.
For sure, skarang bukan hanya title saya yang dibutuhkan, namun level of adaptability, right passion to pursue your career (not job), asset2 pribadi seperti keyakinan, attitude, dan konsistesi, serta kemampuan untuk “berenang” dan menaiki gelombang zaman akan mencapai kesejahteraan, kesuksesan dan pemenuhan melewati batas2 imajinasi.
Are you the one?
Belajar Dari Hal2 Kecil April 25, 2010
Posted by ivanlukather in Uncategorized.add a comment
Kemaren saya pergi ke Taman Anggrek, melewati jalan pinggir tol Kedoya. Jika anda orang Jakarta Barat, anda akan langsung tahu permasalahan yang saya maksudkan. Jalan itu begitu sempit dan untuk badan dua mobil aja udah sangat susah. Jalan itu bener2 sempit terutama deket bagian yang ada perusahaan kolam renang itu. Itu bisa disebut bottle neck, karena di tempat itulah jalan nya paling sempit dan pasti akan hanya jarak 2 mm kalo 2 mobil bisa lewat. Itupun kalo mobilnya segede Honda Jazz. Kalo ada Fortuner, pasti Cuma satu mobil mungkin bisa lewat.
Kejadian paling sering adalah deadlock. Disertai motor2 yang mencoba untuk berebutan disitu, macet total udah paling sering. Namun kemaren saya melihat hal yang berbeda. Saat saya jalan, saya lihat ada rush mobil di depan. Saya justru memutuskan menunggu. Saya ga masuk area itu, dan membiarkan mobil di depan lewat dulu.
Baru setelah 5 mobil lewat, dan jalan kosong, saya baru lewat, walau mobil di belakang saya mengklakson dengan keras, seolah2 teriak, “ cepet maju, ngapain nunggu.” Cuma dengan ini saya lihat baik saya dan mobil di arah balik, semua bisa lewat tanpa halangan, dan mobil2 di belakang saya pun bisa lewat dengan santai, walau tadinya marah2.
Lain kasus, saya tahu ada suatu cerita, Pendeta yang suka menunda2. Saat dia diminta tolong istrinya buat betulin atap genteng bocor, dia menunda2 sampe buat istrinya marah dan terjadi lah perang hebat. Saat besok dia diminta membetulkan koper, hanya butuh duit Rp, 20,000 dan waktu 10 menit, namun urusan beres dan istrinya senang, lalu memasakkan makanan yang enak. Begitu ceritanya.
Apa moral dari ini semua?
Terkadang ya, butuh satu tindakan aja yang simple. Seperti mengalah barang sebentar, atau sekedar hilang 20,000 dan 10 menit. Dan seringnya hal2 yang simple itu, bisa menghindarkan kita dari berbagai masalah yang kalo sampe kita tidak lakukan hal2 simple itu, membawa kita kepada perkara2 yang lebih besar bahkan pelik. Saya tahu tu, kalo saya ga ngalah, at least ilang 15 menit atau 20 menit di jalan itu. Hanya dengan diam ngalah, ga sampe berhenti 3 menit di luar bottle neck, wow it save a bunch of my time from unnecessary traffic.
Jangan sepelekan hal2 yang kecil, karena banyak hal2 itu yang jika anda lalai untuk lakukan, berakibat hal2 yang lebih besar.
Salam Sukses.