<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Gudang Ilmu dan Pengetahuan</title>
	<atom:link href="http://ivanlukather.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ivanlukather.wordpress.com</link>
	<description>Science Without Religion is Lame, Religion Without Science is Blind- Albert Einstein</description>
	<lastBuildDate>Sat, 24 Dec 2011 16:58:43 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='ivanlukather.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Gudang Ilmu dan Pengetahuan</title>
		<link>http://ivanlukather.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://ivanlukather.wordpress.com/osd.xml" title="Gudang Ilmu dan Pengetahuan" />
	<atom:link rel='hub' href='http://ivanlukather.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>THESE TOO SHALL PASS</title>
		<link>http://ivanlukather.wordpress.com/2011/12/24/these-too-shall-pass/</link>
		<comments>http://ivanlukather.wordpress.com/2011/12/24/these-too-shall-pass/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Dec 2011 16:58:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ivanlukather</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ivanlukather.wordpress.com/?p=273</guid>
		<description><![CDATA[Alkisah, ada seorang raja yang amat sangat berkuasa bernama Sulaiman. Kekuasaan dan kekayaan nya tiada tara. Suatu hari dia berkata kepada para menterinya, “ Hidupku ini bagaikan sebuah depresi yang tak berujung. Saat semua berjalan sesuai kehendakku, aku takut bahwa itu tidak akan lama. Saat semua berjalan tidak sesuai kehendak ku, aku takut bahwa kekecewaanku [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ivanlukather.wordpress.com&amp;blog=4174603&amp;post=273&amp;subd=ivanlukather&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ivanlukather.files.wordpress.com/2011/12/marla_studios-__gam_zeh_bracelet_silver__19995_zoom.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-274" title="Marla_Studios-__Gam_Zeh_Bracelet_(Silver)__19995_zoom" src="http://ivanlukather.files.wordpress.com/2011/12/marla_studios-__gam_zeh_bracelet_silver__19995_zoom.jpg?w=300&#038;h=169" alt="" width="300" height="169" /></a>Alkisah, ada seorang raja yang amat sangat berkuasa bernama Sulaiman. Kekuasaan dan kekayaan nya tiada tara. Suatu hari dia berkata kepada para menterinya, “ Hidupku ini bagaikan sebuah depresi yang tak berujung. Saat semua berjalan sesuai kehendakku, aku takut bahwa itu tidak akan lama. Saat semua berjalan tidak sesuai kehendak ku, aku takut bahwa kekecewaanku tidak akan berakhir.”</p>
<p>Sulaiman kembali berujar, katanya, “ aku bermimpi akan adanya sebuah cincin yang mempunyai pengetahuan yang dapat memberikanku ketentraman batin. Carilah itu dimanapun adanya, belilah dengan harga berapapun juga, dan bawalah itu sebelum hari raya Sukot, 6 bulan dari sekarang.</p>
<p>Semua menteri beserta punggawa2nya pergi mencari ke seluruh dunia, desa, kota , kabupaten, kotamadya, bahkan mencari di kaum pandai besi maupun pandai emas di seantero negeri, namun cincin tersebut bagaikan sebuah cerita fiktif dan perintah raja bagaikan titah yang mustahil dilakukan.</p>
<p>6 bulan kemudian, sehari sebelum hari raya Sukot, para menteri beserta punggawa2 nya pun menyerah. Tidak ada seorang pun di dunia yang pernah mendengar tentang cincin itu. Namun, ada satu perwira muda yang tidak menyerah jua. Dia tetap mencari semalaman, hingga suatu dini hari, sebelum fajar menyingsing, dia mendapati dirinya ada di distrik termiskin di kota Yerusalem.</p>
<p>Di distrik itu, dia bertemu dengan seseorang tua yang mempunyai toko perhiasan yang sangat sederhana. Sebagai upaya terakhir, sang perwira ini menjelaskan tentang cincin itu dengan lemas dan terbata bata, seakan berpikir, “ ah tidak ada salahnya mencoba, walau maybe hasilnya sama aja.”</p>
<p>Sang pemilik toko diam sejenak lalu mengambil sebuah cincin dari emas yang sangat biasa, tidak ada istimewa2 nya. Sang pemilik toko lalu mulai menorehkan grafir di cincin itu, sebelum menyerahkan kembali kepada sang perwira. Sang perwira begitu membaca tulisan di cincin langsung berkata, <strong>“ INI DIA”.</strong></p>
<p>Malam harinya, di acara perayaan Sukot, sang raja bertanya, “ sudahkah kalian menemukan cincin itu?” Perwira itu berteriak, “ sudah” sambil memberikan cincin itu ke tangan raja. Raja menerima cincin itu dan melihat tulisan dalam bahasa ibrani yang terukir di dalamnya bertuliskan….</p>
<p><strong>Gam Zeh Ya’avor.- </strong></p>
<p>Yang artinya…</p>
<p><strong>Ini pun akan berlalu….</strong></p>
<p>Friends, what is 2011 for you guys…some of you say, it is hard..penuh gejolak, tantangan, darah dan air mata… some of you think that the hardship of life is going to haunt you all the way down to 2012…<br />
<strong>BUT REMEMBER…</strong>.</p>
<p><em>Every moment brings you happiness or sorrow. Every stroke with the brush on your canvas of life is either lead us to happiness or sorrow.</em></p>
<p>Banyak orang menjalani kehidupan mereka seolah2 kebahagiaan dan tragedi adalah sesuatu yang permanen.</p>
<p>Jika anda sedih…<strong>INI AKAN BERLALU</strong><br />
Jika anda sedang pengangguran..<strong>INI PUN AKAN BERLALU</strong>..<br />
Jika anda sedang diambang kepailitan&#8230;<strong>INI JUGA AKAN BERLALU</strong><br />
Jika anda sedang bertarung dengan penyakit…<strong>INI PASTI AKAN BERLALU</strong>…</p>
<p>Kawans, nothing is permanent in life…baik kesulitan maupun kesenangan…teruslah syukuri apa yang ada, karena hidup adalah anugrah…baik dalam sedih maupun senang…just cherished the bright side of life..and never regret, coz life itself is a miracle..every minute of the day&#8230;<strong>JUST REMEMBER</strong></p>
<p><em><strong>GAM ZEH YA&#8217; AVOR- THESE TOO SHALL PASS…</strong></em></p>
<p><strong>Merry Christmas 2011 and Happy New Year 2012…</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ivanlukather.wordpress.com/273/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ivanlukather.wordpress.com/273/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ivanlukather.wordpress.com/273/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ivanlukather.wordpress.com/273/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ivanlukather.wordpress.com/273/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ivanlukather.wordpress.com/273/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ivanlukather.wordpress.com/273/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ivanlukather.wordpress.com/273/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ivanlukather.wordpress.com/273/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ivanlukather.wordpress.com/273/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ivanlukather.wordpress.com/273/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ivanlukather.wordpress.com/273/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ivanlukather.wordpress.com/273/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ivanlukather.wordpress.com/273/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ivanlukather.wordpress.com&amp;blog=4174603&amp;post=273&amp;subd=ivanlukather&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ivanlukather.wordpress.com/2011/12/24/these-too-shall-pass/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">ivanlukather</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ivanlukather.files.wordpress.com/2011/12/marla_studios-__gam_zeh_bracelet_silver__19995_zoom.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Marla_Studios-__Gam_Zeh_Bracelet_(Silver)__19995_zoom</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kisah 2 Gadis Penjual Tissue</title>
		<link>http://ivanlukather.wordpress.com/2011/11/26/kisah-2-gadis-penjual-tissue/</link>
		<comments>http://ivanlukather.wordpress.com/2011/11/26/kisah-2-gadis-penjual-tissue/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Nov 2011 07:44:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ivanlukather</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ivanlukather.wordpress.com/?p=268</guid>
		<description><![CDATA[Kejujuran sebuah kata yang sangat sederhana tapi sekarang menjadi barang langka dan sangat mahal harganya. Memang ketika kita merasa senang dan segalanya berjalan lancar, mengamalkan kejujuran secara konsisten tidaklah sulit, tetapi pada saat sebuah nilai kejujuran yang kita pegang berbenturan dengan perasaan, kita mulai tergoncang apakah tetap memegangnya, atau kita biarkan tergilas oleh keadaan. Sebuah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ivanlukather.wordpress.com&amp;blog=4174603&amp;post=268&amp;subd=ivanlukather&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ivanlukather.files.wordpress.com/2011/11/anjal.jpg"><img class=" wp-image-269 alignleft" title="Penjual Tisu" src="http://ivanlukather.files.wordpress.com/2011/11/anjal.jpg?w=270&#038;h=203" alt="" width="270" height="203" /></a>Kejujuran sebuah kata yang sangat sederhana tapi sekarang menjadi barang langka dan sangat mahal harganya. Memang ketika kita merasa senang dan segalanya berjalan lancar, mengamalkan kejujuran secara konsisten tidaklah sulit, tetapi pada saat sebuah nilai kejujuran yang kita pegang berbenturan dengan perasaan, kita mulai tergoncang apakah tetap memegangnya, atau kita biarkan tergilas oleh keadaan. Sebuah kisah kejujuran yang sangat menyentuh hati, dua orang anak kecil menjajakan tisu di pinggir jalan. Membuat kita mesti belajar banyak tentang arti sebuah kejujuran.</p>
<p>Siang ini, tanpa sengaja, saya bertemu dua manusia super. Mereka makhluk-makhluk kecil, kurus, kumal berbasuh keringat. Tepatnya di atas jembatan penyeberangan Setia Budi, dua sosok kecil berumur kira-kira delapan tahun menjajakan tissue dengan wadah kantong plastik hitam. Saat menyeberang untuk makan siang mereka menawari saya tissue di ujung jembatan, dengan keangkuhan khas penduduk Jakarta saya hanya mengangkat tangan lebar-lebar tanpa tersenyum yang dibalas dengan sopannya oleh mereka dengan ucapan, “Terima kasih Oom!” Saya masih tak menyadari kemuliaan mereka dan cuma mulai membuka sedikit senyum seraya mengangguk ke arah mereka.</p>
<p>Kaki-kaki kecil mereka menjelajah lajur lain di atas jembatan, menyapa seorang laki laki lain dengan tetap berpolah seorang anak kecil yang penuh keceriaan, laki-laki itu pun menolak dengan gaya yang sama dengan saya, lagi-lagi sayup-sayup saya mendengar ucapan terima kasih dari mulut kecil mereka. Kantong hitam tempat stok tissue dagangan mereka tetap teronggok di sudut jembatan tertabrak derai angin Jakarta. Saya melewatinya dengan lirikan kearah dalam kantong itu, dua pertiga terisi tissue putih berbalut plastik transparan.</p>
<p>Setengah jam kemudian saya melewati tempat yang sama dan mendapati mereka tengah mendapatkan pembeli seorang wanita, senyum di wajah mereka terlihat berkembang seolah memecah mendung yang sedang menggayuti langit Jakarta. “Terima kasih ya mbak … semuanya dua ribu lima ratus rupiah!” tukas mereka, tak lama si wanita merogoh tasnya dan mengeluarkan uang sejumlah sepuluh ribu rupiah. “Maaf, nggak ada kembaliannya … ada uang pas nggak mbak?” mereka menyodorkan kembali uang tersebut. Si wanita menggeleng, lalu dengan sigapnya anak yang bertubuh lebih kecil menghampiri saya yang tengah mengamati mereka bertiga pada jarak empat meter. “Oom boleh tukar uang nggak, receh sepuluh ribuan?” suaranya mengingatkan kepada anak lelaki saya yang seusia mereka. Sedikit terhenyak saya merogoh saku celana dan hanya menemukan uang sisa kembalian food court sebesar empat ribu rupiah. “Nggak punya!”, tukas saya.</p>
<p>Lalu tak lama si wanita berkata “Ambil saja kembaliannya, dik!” sambil berbalik badan dan meneruskan langkahnya ke arah ujung sebelah timur. Anak ini terkesiap, ia menyambar uang empat ribuan saya dan menukarnya dengan uang sepuluh ribuan tersebut dan meletakkannya kegenggaman saya yang masih tetap berhenti, lalu ia mengejar wanita tersebut untuk memberikan uang empat ribu rupiah tadi. Si wanita kaget, setengah berteriak ia bilang “Sudah buat kamu saja, nggak apa..apa ambil saja!”, namun mereka berkeras mengembalikan uang tersebut. “Maaf mbak, cuma ada empat ribu, nanti kalau lewat sini lagi saya kembalikan !”</p>
<p>Akhirnya uang itu diterima si wanita karena si kecil pergi meninggalkannya. Tinggallah episode saya dan mereka. Uang sepuluh ribu digenggaman saya tentu bukan sepenuhnya milik saya. Mereka menghampiri saya dan berujar “Om, bisa tunggu ya, saya ke bawah dulu untuk tukar uang ke tukang ojek!” “Eeh … nggak usah … nggak usah … biar aja … nih!” saya kasih uang itu ke si kecil, ia menerimanya, tapi terus berlari ke bawah jembatan menuruni tangga yang cukup curam menuju ke kumpulan tukang ojek. Saya hendak meneruskan langkah tapi dihentikan oleh anak yang satunya, “Nanti dulu Om, biar ditukar dulu … sebentar.” “Nggak apa apa, itu buat kalian” lanjut saya.</p>
<p>“Jangan … jangan oom, itu uang oom sama mbak yang tadi juga” anak itu bersikeras. “Sudah … saya ikhlas, mbak tadi juga pasti ikhlas !”, saya berusaha membargain, namun ia menghalangi saya sejenak dan berlari ke ujung jembatan berteriak memanggil temannya untuk segera cepat. Secepat kilat juga ia meraih kantong plastik hitamnya dan berlari ke arah saya. “Ini deh om, kalau kelamaan, maaf ..”. Ia memberi saya delapan pack tissue. “Buat apa?”, saya terbengong “Habis teman saya lama sih oom, maaf, tukar pakai tissue aja dulu”. Walau dikembalikan ia tetap menolak. Saya tatap wajahnya, perasaan bersalah muncul pada rona mukanya. Saya kalah set, ia tetap kukuh menutup rapat tas plastik hitam tissuenya. Beberapa saat saya mematung di sana, sampai si kecil telah kembali dengan genggaman uang receh sepuluh ribu, dan mengambil tissue dari tangan saya serta memberikan uang empat ribu rupiah. “Terima kasih Om!”..</p>
<p>Mereka kembali ke ujung jembatan sambil sayup sayup terdengar percakapan, “Duit mbak tadi gimana ..?” suara kecil yang lain menyahut, “Lu hafal kan orangnya, kali aja ketemu lagi ntar kita kasihin …….”. Percakapan itu sayup sayup menghilang, saya terhenyak dan kembali ke kantor dengan seribu perasaan. Tuhan, hari ini saya belajar dari dua manusia super, kekuatan kepribadian mereka menaklukan Jakarta membuat saya trenyuh, mereka berbalut baju lusuh tapi hati dan kemuliaannya sehalus sutra, mereka tahu hak mereka dan hak orang lain, mereka berusaha tak meminta minta dengan berdagang tissue. Dua anak kecil yang bahkan belum dewasa, memiliki kemuliaan di umur mereka yang begitu belia. Kejujuran adalah mata uang yang berlaku dimana-mana. Apa yang bukan milik kita, pantang untuk kita ambil.</p>
<p>YOU ARE ONLY AS HONORABLE AS WHAT YOU DO</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ivanlukather.wordpress.com/268/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ivanlukather.wordpress.com/268/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ivanlukather.wordpress.com/268/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ivanlukather.wordpress.com/268/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ivanlukather.wordpress.com/268/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ivanlukather.wordpress.com/268/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ivanlukather.wordpress.com/268/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ivanlukather.wordpress.com/268/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ivanlukather.wordpress.com/268/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ivanlukather.wordpress.com/268/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ivanlukather.wordpress.com/268/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ivanlukather.wordpress.com/268/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ivanlukather.wordpress.com/268/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ivanlukather.wordpress.com/268/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ivanlukather.wordpress.com&amp;blog=4174603&amp;post=268&amp;subd=ivanlukather&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ivanlukather.wordpress.com/2011/11/26/kisah-2-gadis-penjual-tissue/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">ivanlukather</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ivanlukather.files.wordpress.com/2011/11/anjal.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Penjual Tisu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Apakah TRUE LOVE still exist? Read the story</title>
		<link>http://ivanlukather.wordpress.com/2011/10/26/apakah-true-love-still-exist-read-the-story/</link>
		<comments>http://ivanlukather.wordpress.com/2011/10/26/apakah-true-love-still-exist-read-the-story/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 Oct 2011 07:40:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ivanlukather</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ivanlukather.wordpress.com/?p=265</guid>
		<description><![CDATA[Setelah begitu lama tidak memperbaharui blog ini, gara2 kesibukan mengurus konselorkarir.com, aku menemukan suatu artikel yang amat sangat bermanfaat buat rekan2 terutama yang sedang bergumul mengenai urusan cinta dan relationship. Here is the story: Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ivanlukather.wordpress.com&amp;blog=4174603&amp;post=265&amp;subd=ivanlukather&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setelah begitu lama tidak memperbaharui blog ini, gara2 kesibukan mengurus <a href="www.konselorkarir.com">konselorkarir.com</a>, aku menemukan suatu artikel yang amat sangat bermanfaat buat rekan2 terutama yang sedang bergumul mengenai urusan cinta dan relationship. Here is the story:</p>
<p>Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.</p>
<p>Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.</p>
<p>Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.</p>
<p>Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.</p>
<p>Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya.</p>
<p>Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.</p>
<p>Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga membenci kedua orangtuaku.</p>
<p>Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.</p>
<p>Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya.</p>
<p>“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut.</p>
<p>Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??”</p>
<p>“Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat , kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.</p>
<p>Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.</p>
<p>Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?” kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata seorang polisi,  ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.</p>
<p>Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya. Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.</p>
<p>Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.</p>
<p>Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.</p>
<p>Saat  pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.</p>
<p>Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.</p>
<p>Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana. Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya  dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.</p>
<p>Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.</p>
<p>Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.</p>
<p>Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.</p>
<p><em>Istriku Liliana tersayang,</em></p>
<p><em>Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.</em></p>
<p><em>Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang. </em></p>
<p><em>Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.</em></p>
<p><em>Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan Farhan, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke, Buddy!</em></p>
<p>Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.</p>
<p>Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.</p>
<p>Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.</p>
<p>Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?”</p>
<p>Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.”</p>
<p>Putriku menatapku, “seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?”</p>
<p>Aku menggeleng, “bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”</p>
<p>Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus.</p>
<p>So, bagaimana pendapat anda..kawan?</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ivanlukather.wordpress.com/265/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ivanlukather.wordpress.com/265/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ivanlukather.wordpress.com/265/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ivanlukather.wordpress.com/265/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ivanlukather.wordpress.com/265/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ivanlukather.wordpress.com/265/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ivanlukather.wordpress.com/265/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ivanlukather.wordpress.com/265/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ivanlukather.wordpress.com/265/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ivanlukather.wordpress.com/265/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ivanlukather.wordpress.com/265/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ivanlukather.wordpress.com/265/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ivanlukather.wordpress.com/265/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ivanlukather.wordpress.com/265/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ivanlukather.wordpress.com&amp;blog=4174603&amp;post=265&amp;subd=ivanlukather&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ivanlukather.wordpress.com/2011/10/26/apakah-true-love-still-exist-read-the-story/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">ivanlukather</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sekilas Kesan dari Mudik 2011</title>
		<link>http://ivanlukather.wordpress.com/2011/08/27/sekilas-kesan-dari-mudik-2011/</link>
		<comments>http://ivanlukather.wordpress.com/2011/08/27/sekilas-kesan-dari-mudik-2011/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Aug 2011 03:25:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ivanlukather</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ivanlukather.wordpress.com/?p=256</guid>
		<description><![CDATA[Wiii..its really long time since my last blog…due to my kesibukan in starting my own venture…jika anda ingin maju dan mempunyai terobosan dalam karir anda, check out www.konselorkarir.com ( numpang promosi)… But..thats not what I am talking now… Baru2 ini aku melihat suatu kejadian yang menurut saya..laik saya tayangkan di blog ini. Ini menyangkut suatu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ivanlukather.wordpress.com&amp;blog=4174603&amp;post=256&amp;subd=ivanlukather&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Wiii..its really long time since my last blog…due to my kesibukan in starting my own venture…jika anda ingin maju dan mempunyai terobosan dalam <a href="http://www.konselorkarir.com">karir</a> anda, check out www.konselorkarir.com ( numpang promosi)…</p>
<p>But..thats not what I am talking now…</p>
<p>Baru2 ini aku melihat suatu kejadian yang menurut saya..laik saya tayangkan di blog ini. Ini menyangkut suatu kejadian yang memang sudah sering terjadi tiap tahun di negara tercinta kita ini, Indonesia. Namun kali ini, entah kenapa..aku bisa melihat kejadian ini dengan kaca mata yang berbeda. Dengan suatu cara pandang yang lain. Oke, kejadian itu adalah…</p>
<p><strong>PULANG MUDIK…</strong></p>
<p><a href="http://ivanlukather.files.wordpress.com/2011/08/mudik3.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-262" title="mudik3" src="http://ivanlukather.files.wordpress.com/2011/08/mudik3.jpg?w=300&#038;h=200" alt="" width="300" height="200" /></a></p>
<p>Well, semua orang pulang mudik setiap lebaran. Rasanya bukan hal aneh lagi, karena setiap tahun kita mengalaminya. Coba pembaca bayangkan..setiap kita bilang lebaran atau arus mudik…apa yang terpikir…</p>
<p>1. MACET di PANTURA dan deadlock di seluruh terminal, airport maupun tempat2 center point pengangkutan..WUAH MENDING JANGAN LIBURAN KELUAR KOTA…</p>
<p>2. Mulai dari H-3 udah males dah ke mall, pusat perbelanjaan..karena RAMAI..orang2 pada beli keperluan buat mudik..</p>
<p>3. Bagi warga Jakarta…HOREEE..JAKARTA SEPI…seolah2 ini adalah saatnya warga Jakarta menikmati kota Jakarta yang yang tanpa macet..</p>
<p>4. Liburan ke luar negeri…tidak tahu kenapa.. overseas trip selalu paling ramai saat lebaran, dimana para pembantu pulang..majikan pun liburan…rumah kosong..</p>
<p>Bukankah itu yang selalu mewarnai lebaran anda dari tahun ke tahun. Bukan hal aneh bukan…namun hari ini saya berkesempatan melihat suatu kejadian yang berbeda.. Hari ini kedua pembantu rumah tangga saya pulang…baru saja mereka mendatangi kamar saya…bilang, “ ko..kita pulang dulu ya..” lalu saya balas, “ iya mbak..selamat idul fitri ya..hati2 di jalan” Kemudian saya antar mereka kebawah. Di bawah, sudah tampak kardus2 yang banyak yang akan mereka bawa pulang. Mereka rencana akan pulang dengan bus beserta rekan2 sekampungnya ke Jawa Tengah.</p>
<p><a href="http://ivanlukather.files.wordpress.com/2011/08/mudikkapallaut180909-590x392.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-263" title="MudikKapallaut180909--590x392" src="http://ivanlukather.files.wordpress.com/2011/08/mudikkapallaut180909-590x392.jpg?w=300&#038;h=199" alt="" width="300" height="199" /></a></p>
<p>Saya melihat ada tawa sukacita di muka mereka…tawa kesukaan..senyum kepuasaan untuk semua jerih payah yang mereka lakukan selama setahun, inilah bulan kemenangan untuk mereka semua. Kemaren saya secara kebetulan melewati terminal bus, dalam perjalanan pulang dari tempat klien. Saya melihat rombongan mudik…ada yang dengan anak istri mereka..atau ada yang bahkan bawa sekompi..mereka menggotong alas tidur..gendongan berisi barang2..bahkan ada yang bawa bakul jamu…saya ga tahu itu gunanya buat apa… Namun semuanya memancarkan suatu kelegaan yang sama..suatu sorot mata yang sama…suatu sinar kemenangan dari mata mereka, bahwa mereka orang2 yang sederhana..bekerja mencari nafkah di kota yang keras ini…bahkan saya yakin banyak yang pendapatannya dibawah UMR.Mereka bekerja banting tulang…lembur remuk..dengan penghasilan yang mereka gunakan untuk menyambung hidup..but..</p>
<p><strong>THESE DAYS IS THEIR PORTION </strong></p>
<p><strong>THESE DAYS IS THEIR WINNING DAY…</strong></p>
<p><a href="http://ivanlukather.files.wordpress.com/2011/08/mudikbareng2.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-261" title="atu keluarga melambaikan tangan dari dalambus ketika mengikuti mudik gratis Sido Muncul di Kemayoran, Jakarta" src="http://ivanlukather.files.wordpress.com/2011/08/mudikbareng2.jpg?w=300&#038;h=197" alt="" width="300" height="197" /></a></p>
<p>Inilah saat mereka bersuka cita..merayakan hari kemenangan mereka..merasakan hasil jerih payah mereka..bercengkerama dengan keluarga..sanak saudara mereka di kampung halaman…menceritakan kisah2 sukses mereka di ibukota kepada anak2 muda di kampung halaman mereka…merekalah pahlawan di hari suci ini…merekalah pahlawan buat keluarga mereka..kampung halaman mereka…dan kota mereka…mereka layak untuk bilang <strong>VINI VIDI VICI</strong>…for whatever they fight for…in any way they struggle..they survive till today..and they still able to bring back the stories…the heroic stories of survival…of persistency and of perseverance…</p>
<p>Di bus bus antar kota….di kereta api….di terminal dan stasiun…di antrian check in airport…</p>
<p>Still the same eyes…and same smile…and the same spirit.. And this is Indonesia..our lovely country..</p>
<p><a href="http://ivanlukather.files.wordpress.com/2011/08/mudiklebaran.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-260" title="mudiklebaran" src="http://ivanlukather.files.wordpress.com/2011/08/mudiklebaran.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p>SELAMAT IDUL FITRI..MINAL AIDIN WAL FAIDZIN….Indonesia…I love you..</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ivanlukather.wordpress.com/256/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ivanlukather.wordpress.com/256/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ivanlukather.wordpress.com/256/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ivanlukather.wordpress.com/256/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ivanlukather.wordpress.com/256/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ivanlukather.wordpress.com/256/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ivanlukather.wordpress.com/256/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ivanlukather.wordpress.com/256/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ivanlukather.wordpress.com/256/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ivanlukather.wordpress.com/256/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ivanlukather.wordpress.com/256/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ivanlukather.wordpress.com/256/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ivanlukather.wordpress.com/256/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ivanlukather.wordpress.com/256/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ivanlukather.wordpress.com&amp;blog=4174603&amp;post=256&amp;subd=ivanlukather&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ivanlukather.wordpress.com/2011/08/27/sekilas-kesan-dari-mudik-2011/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">ivanlukather</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ivanlukather.files.wordpress.com/2011/08/mudik3.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">mudik3</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ivanlukather.files.wordpress.com/2011/08/mudikkapallaut180909-590x392.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">MudikKapallaut180909--590x392</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ivanlukather.files.wordpress.com/2011/08/mudikbareng2.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">atu keluarga melambaikan tangan dari dalambus ketika mengikuti mudik gratis Sido Muncul di Kemayoran, Jakarta</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ivanlukather.files.wordpress.com/2011/08/mudiklebaran.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">mudiklebaran</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Japan, We are With You&#8230;</title>
		<link>http://ivanlukather.wordpress.com/2011/04/05/japan-we-are-with-you/</link>
		<comments>http://ivanlukather.wordpress.com/2011/04/05/japan-we-are-with-you/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Apr 2011 07:54:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ivanlukather</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ivanlukather.wordpress.com/?p=237</guid>
		<description><![CDATA[Setelah sekian lama tidak menulis blog, akhirnya saya memutuskan untuk menuliskan something yang sangat menyentuh hati saya. Tulisan ini saya dedikasikan sepenuhnya untuk satu negara yang benar2 menggores hati saya&#8230;negara yang selalu saya anggap second home saya, walaupun saya hanya pernah kesana beberapa kali..negara yang dengan berbagai kreatifitasnya sudah mewarnai hidup saya, dan sekarang, semangat, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ivanlukather.wordpress.com&amp;blog=4174603&amp;post=237&amp;subd=ivanlukather&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<span style="text-align:center; display: block;"><a href="http://ivanlukather.wordpress.com/2011/04/05/japan-we-are-with-you/"><img src="http://img.youtube.com/vi/fMw7YP4aPR0/2.jpg" alt="" /></a></span>
<p>Setelah sekian lama tidak menulis blog, akhirnya saya memutuskan untuk menuliskan something yang sangat menyentuh hati saya. Tulisan ini saya dedikasikan sepenuhnya untuk satu negara yang benar2 menggores hati saya&#8230;negara yang selalu saya anggap second home saya, walaupun saya hanya pernah kesana beberapa kali..negara yang dengan berbagai kreatifitasnya sudah mewarnai hidup saya, dan sekarang, semangat, ketegaran serta spirit dari negara ini benar2 menginspirasi saya untuk menulis tulisan ini. Negara yang baru saja diterjang hantaman yang sangat mungkin menghancurkan kondisi moril maupun materiil,namun yang terjadi adalah sebaliknya&#8230;berbagai cerita inspirasional dan kisah2 heroik yang muncul bagai tiada hentinya, seakan menyiratkan inspirasi perjuangan hidup yang tak pernah mati.</p>
<p>Menyaksikan — lewat berbagai saluran televisi — luluh lantaknya negeri sakura Jepang akibat terjangan gempa berkekuatan 9,0 skala richter, disusul gulungan gelombang tsunami setinggi kurang lebih sepuluh meter, sungguh ironis, memilukan dan menyayat hati. Saya kira demikian nilai kemanusiaan di nurani kita semua ikut pula merasakannya. </p>
<p>Jepang mengabarkan drama amuk alam yang menyebabkan lebih dari 10.000 orang tewas dan 10.000 orang hilang itu ke seluruh dunia. Didera tiga darurat sekaligus, yakni gempa, tsunami, dan ancaman nuklir, sangatlah wajar jika kondisi ini bisa meluluhlantakkan suatu negara seketika. Tetapi anehnya, Sekalipun kelaparan dan krisis air bersih mendera jutaan orang di sepanjang ribuan kilometer pantai timur Pulau Honshu dan pulau lain di Jepang, para korban sabar dan tertib menanti distribusi logistik. Hingga hari keempat pascabencana, Selasa, tidak terdengar aksi penjarahan dan tindakan tercela lainnya.</p>
<p>Malah justru saya semakin dibuat takjub sekeping berita di salah satu media cetak nasional, mengisahkan bagaimana keteguhan sikap akan tanggujawab sejumlah pekerja reaktor nuklir di Daiichi Fukushima. Mereka penuh dedikasi sebagai martir melaksanakan tugas utamanya untuk merawat dan memulihkan reaktor nuklir yang baru saja meledak, meski sangat riskan untuk menjadikan nyawa mereka sebagai taruhannya. Risiko radiasi berbahaya sekejap akan memungkinkan merenggut jiwa mereka. </p>
<p>Televisi, media cetak, radio, dan situs berita online di seluruh dunia telah merilis bencana itu. Namun, hal yang mengagumkan dunia, seluruh kejadian serta momen dramatis dan mendebarkan direkam televisi Jepang detik demi detik, sejak awal gempa, datangnya tsunami, hingga air bah itu ”diam”.</p>
<p>Begitu banyaknya cerita2 inspiratif dari Jepang:</p>
<p><strong>1. KEAJAIBAN KECIL</strong></p>
<p>Pada tanggal 14 Maret, prajurit Pasukan “Bela Diri” Jepang menelusuri dari pintu ke pintu di Ishinomaki, sebuah kota pesisir timur laut Sendai, menarik tubuh dari rumah-rumah yang telah diratakan oleh gempa bumi dan tsunami. hanya mendengar puing yang berderak dan lumpur yang tumpah selama masa pencarian, Tiba-tiba mereka dihentikan oleh suara tangisan bayi, Namun masih hanya dianggap sebagai salah pendengaran. Sampai mereka mendengarnya lagi.</p>
<p>Mereka segera membuat jalan dengan menyingkirkan tumpukan puing-puing Batu dan kayu yang berserakan dengan penuh kehati-hatian, setelah menyingkirkan kaca dan batu yang hancur. kemudian mereka melihat seorang  bayi perempuan berumur  4 bulan dalam setelan wol bergambar beruang pink.</p>
<p>Sebuah gelombang pasang menyapu tubuh bayi dari tangan orangtuanya ketika Tsunami menghantam rumah mereka pada tanggal 11 Maret. Setelah itu, ke dua orang tuanya selamat dari bencana tersebut  dengan berlindung di rumah mereka yang telah hancur, perasaan khawatir dan putus asa bahwa gadis kecil mereka sudah mati terus mereka rasakan. Hingga akhirnya Tentara berhasil menyatukan kembali bayi dengan orang tuanya.  Kedua orang tua nya sangat  gembira setelah penyelamatan tersebut.</p>
<p><strong>2. Kisah BAN , ANJING YANG SELAMAT DARI TSUNAMI</strong></p>
<p>TOKYO &#8211; Kisah mengharukan datang dari kisah pasca tsunami Jepang yang telah terjadi beberapa waktu lalu.<br />
Sebuah TV Jepang baru saja mengabadikan momen pertemuan seekor anjing dengan pemiliknya yang telah terpisah selama 3 minggu akibat tsunami yang terjadi.Sang pemilik anjing, melihat anjingnya diselamatkan oleh kru Japan Coast Guard melalui tayangan TV, demikian lansir BBC, Selasa (5/4/2011).</p>
<p>Ia pun lantas menghubungi TV tersebut dan menelusuri keberadaan anjing berusia 2 tahun yang bernama Ban itu.Pertemuan yang mengharukan pun terjadi ketika akhirnya si pemilik yang tidak mau disebutkan namanya itu bertemu Ban. Ban begitu tampak bahagia. Ia berlari mendatangi lalu melompat ke dekapan pemiliknya.<br />
“Saya tidak akan pernah mau berpisah dengan Ban lagi” ungkap si pemilik.</p>
<p><strong>3. ZACK BRANHAM STORY</strong>:</p>
<p>http://www.theindychannel.com/news/27205637/detail.html</p>
<p>Dan masih banyak kisah kisah inspiratif lainnya. Alkisah, pasca tsunami, jalan macet total sampe semua orang harus menginap di stasiun maupun di jalan. Anehnya&#8230;tidak terdengar sama sekali celaan, bahkan even satu klakson pun. Yang ada hanyalah ucapan &#8220;Arigatou Gozaimashita&#8221; karena mereka sama2 diizinkan untuk berjalan lebih dulu. Petugas di stasiun dimana pengungsi tinggal pun sampai bisa tersenyum saat melayani para pengungsi, tidak ada suatu celaan maupun kegeraman, yang ada hanya saling tolong menolong dan kebanggan para warga kepada para aparatnya yang melayani mereka tetap dengan senyum.</p>
<p>Para pengungsi pun, semua saling berbagi. Mereka harus mengantre 20 jam untuk mendapatkan air bersih, namun tidak ada keserakahan saat mengambilnya. Yang ada hanyalah rasa saling berbagi dan saling toleransi dalam berbagi air bersih.</p>
<p>Akhir kata,I put one song by Orianthi and Lacey called &#8220;Courage&#8221;, dedicated for Japanese people for their courage and persistency during this catastrophe&#8230;although ga nyambung and this is sung by non-Japanese, the lyric and music really inspires me to dedicate this song for them..</p>
<p>Finally, melalui blog post ini, saya hanya ingin mengucapkan.. JAPAN, Ganbatte Kudasai.. WE ARE WITH YOU&#8230;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ivanlukather.wordpress.com/237/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ivanlukather.wordpress.com/237/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ivanlukather.wordpress.com/237/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ivanlukather.wordpress.com/237/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ivanlukather.wordpress.com/237/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ivanlukather.wordpress.com/237/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ivanlukather.wordpress.com/237/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ivanlukather.wordpress.com/237/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ivanlukather.wordpress.com/237/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ivanlukather.wordpress.com/237/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ivanlukather.wordpress.com/237/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ivanlukather.wordpress.com/237/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ivanlukather.wordpress.com/237/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ivanlukather.wordpress.com/237/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ivanlukather.wordpress.com&amp;blog=4174603&amp;post=237&amp;subd=ivanlukather&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ivanlukather.wordpress.com/2011/04/05/japan-we-are-with-you/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">ivanlukather</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Forever Love- I will Always Online- WATCH THIS VIDEO!!</title>
		<link>http://ivanlukather.wordpress.com/2010/12/16/forever-love-i-will-always-online-watch-this-video/</link>
		<comments>http://ivanlukather.wordpress.com/2010/12/16/forever-love-i-will-always-online-watch-this-video/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Dec 2010 17:58:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ivanlukather</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ivanlukather.wordpress.com/?p=235</guid>
		<description><![CDATA[<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ivanlukather.wordpress.com&amp;blog=4174603&amp;post=235&amp;subd=ivanlukather&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<span style="text-align:center; display: block;"><a href="http://ivanlukather.wordpress.com/2010/12/16/forever-love-i-will-always-online-watch-this-video/"><img src="http://img.youtube.com/vi/FuedTYO7ZdE/2.jpg" alt="" /></a></span>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ivanlukather.wordpress.com/235/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ivanlukather.wordpress.com/235/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ivanlukather.wordpress.com/235/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ivanlukather.wordpress.com/235/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ivanlukather.wordpress.com/235/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ivanlukather.wordpress.com/235/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ivanlukather.wordpress.com/235/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ivanlukather.wordpress.com/235/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ivanlukather.wordpress.com/235/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ivanlukather.wordpress.com/235/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ivanlukather.wordpress.com/235/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ivanlukather.wordpress.com/235/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ivanlukather.wordpress.com/235/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ivanlukather.wordpress.com/235/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ivanlukather.wordpress.com&amp;blog=4174603&amp;post=235&amp;subd=ivanlukather&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ivanlukather.wordpress.com/2010/12/16/forever-love-i-will-always-online-watch-this-video/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">ivanlukather</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>We are the GEN Y!</title>
		<link>http://ivanlukather.wordpress.com/2010/11/27/we-are-the-gen-y/</link>
		<comments>http://ivanlukather.wordpress.com/2010/11/27/we-are-the-gen-y/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Nov 2010 05:09:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ivanlukather</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ivanlukather.wordpress.com/?p=233</guid>
		<description><![CDATA[Pada kesempatan kali ini, saya ingin mengetengahkan suatu fenomena sosial yang sangat menarik dan juga patut diketahui oleh setiap kita. Tanpa mengetahui fenomena ini, siapapun anda, baik pebisnis, pelaku usaha, orang tua, guru dan pemimpin agama pun akan kesulitan dalam mengakomodasi fenomena ini. Fenomena ini disebut GENERATION Y Generation Y adalah siapapun yang lahir di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ivanlukather.wordpress.com&amp;blog=4174603&amp;post=233&amp;subd=ivanlukather&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada kesempatan kali ini, saya ingin mengetengahkan suatu fenomena sosial yang sangat menarik dan juga patut diketahui oleh setiap kita. Tanpa mengetahui fenomena ini, siapapun anda, baik pebisnis, pelaku usaha, orang tua, guru dan pemimpin agama pun akan kesulitan dalam mengakomodasi fenomena ini. Fenomena ini disebut</p>
<p>GENERATION Y</p>
<p>Generation Y adalah siapapun yang lahir di tahun 1982-2001, terdiri dari lebih dari 75 juta professional muda dan young adult, termasuk saya, di dunia kita ini. Generation Y merupakan pionir dalam evolusi karir, dengan dibekali pengetahuan akan teknologi dan mindset yang berbeda dalam pengembangan karir serta networking. Dikatakan bahwa tahun 2020, setengah dari lapangan kerja akan diisi oleh Gen Y. Tanpa mengetahui siapa mereka, apa yang mereka value, dan apa style mereka dalam bekerja, jangan harap anda bisa memajukan bisnis anda, sekolah anda, komunitas anda, bahkan tempat peribadahan anda. Bukan mau mengagung2kan mereka, tapi sorry, this is kenyataannya. Mereka adalah orang2 yang menyimpan power terbesar saat ini, belum meledak, yes, namun power itu akan kentara dalam 10-15 tahun kedepan. And tanpa bermaksud melebih2kan lagi, they will be the new emerging power of our world, suka atau tidak suka, tahu atau tidak tahu.</p>
<p>Mau tahu ciri2 Gen Y:</p>
<p>1. Gen Y adalah sekelompok orang yang high energy, dan tidak akan mau menunggu lama untuk sebuah pencapaian karir. Ga ada lagi 10 tahun bekerja baru mencapai posisi GM, before 30 is our new motto.</p>
<p>2. Gen Y sangat menhargai waktu bekerja, dan bagi gen Y, tidak akan semudah itu menaruh mereka di entry level job. Staff bukan kata2 yang terlalu enak didengar buat Gen Y dan gaji 1.5 juta sampe 2 juta untuk permulaan kerja, adalah suatu hal yang tidak terlalu menarik. </p>
<p>3. Jangan kaget kalo Gen Y adalah orang2 yang menentang Status Quo, karena mereka diexposed oleh new things, new mindset. Banyak dari mereka bersekolah di luar negeri, dengan berbagai new terms being exposed. Maybe pemilik business skrg bisa lbh seneng dengan cara kerja manual, misal laporan keuangan manual, sistem kerja ga jelas, dan sistem IT yang obsolete. Don think you will be attractive to these group if you dont change it in near future.</p>
<p>4. Mereka tidak terikat pada suatu kesempatan kerja. Loyalty hanyalah tergantung pada siapa yang bisa memberi penawaran yang terbaik. Tidak selalu urusan duit, tapi flexibility, work environment, dan passion .</p>
<p>5. Results is more important than appearance. Jeans dan T shirt is better for us as long as we close sales target. Dont need to stay 8-5 namun closing sales terus is 10x more important for this kind of group.</p>
<p>Gen Y dikatakan sebagai ID Generation, I Deserve Generation. Jangan berpikir mereka adalah orang yang loyal, karena mereka hanya mau melayani employer yang menghargai kekuatan dan personality serta passion mereka.</p>
<p>Banyak perusahaan2 besar sudah mulai meramu cara untuk menarik golongan ini. Flexibiility, work life balance dan tempat kerja kasual adalah beberapa cara, contoh:</p>
<p>- PCL Construction: Cuti sakit UNLIMITED</p>
<p>- Google: Mengizinkan employee nya bekerja sampingan untuk hal yang mereka suka/ hobi, bahkan mereka boleh main bilyar, playstation , atau bahkan bawa anjing ke tempat kerja.</p>
<p>- Umpqua Bank: Ada allowance buat beli baju kerja, sesuka2nya</p>
<p>So, are you ready??&#8230; </p>
<p>Take a look at this video</p>
<span style="text-align:center; display: block;"><a href="http://ivanlukather.wordpress.com/2010/11/27/we-are-the-gen-y/"><img src="http://img.youtube.com/vi/2ZUPYI975GQ/2.jpg" alt="" /></a></span>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ivanlukather.wordpress.com/233/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ivanlukather.wordpress.com/233/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ivanlukather.wordpress.com/233/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ivanlukather.wordpress.com/233/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ivanlukather.wordpress.com/233/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ivanlukather.wordpress.com/233/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ivanlukather.wordpress.com/233/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ivanlukather.wordpress.com/233/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ivanlukather.wordpress.com/233/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ivanlukather.wordpress.com/233/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ivanlukather.wordpress.com/233/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ivanlukather.wordpress.com/233/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ivanlukather.wordpress.com/233/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ivanlukather.wordpress.com/233/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ivanlukather.wordpress.com&amp;blog=4174603&amp;post=233&amp;subd=ivanlukather&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ivanlukather.wordpress.com/2010/11/27/we-are-the-gen-y/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">ivanlukather</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Serba Serbi Kepemimpinan</title>
		<link>http://ivanlukather.wordpress.com/2010/10/16/serba-serbi-kepemimpinan/</link>
		<comments>http://ivanlukather.wordpress.com/2010/10/16/serba-serbi-kepemimpinan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 Oct 2010 03:08:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ivanlukather</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ivanlukather.wordpress.com/?p=229</guid>
		<description><![CDATA[Setelah lama tidak menulis blog, akhirnya saya benar2 tertarik untuk menulis lagi. Topik yang memang selalu fascinating buat saya adalah soal kepemimpinan. Wacana yang ingin saya lempar kali ini adalah ,” SUSAHKAH MENJADI PEMIMPIN? Banyak orang pengen jadi pemimpin. Banyak orang pengen berkuasa, membuat semua keputusan dan menentukan semua kebijakan dalam sebuah organisasi. Ada suatu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ivanlukather.wordpress.com&amp;blog=4174603&amp;post=229&amp;subd=ivanlukather&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<span style="text-align:center; display: block;"><a href="http://ivanlukather.wordpress.com/2010/10/16/serba-serbi-kepemimpinan/"><img src="http://img.youtube.com/vi/90Fsy6j8404/2.jpg" alt="" /></a></span>
<p>Setelah lama tidak menulis blog, akhirnya saya benar2 tertarik untuk menulis lagi. Topik yang memang selalu fascinating buat saya adalah soal kepemimpinan. Wacana yang ingin saya lempar kali ini adalah ,<strong>” SUSAHKAH MENJADI PEMIMPIN? </strong></p>
<p>Banyak orang pengen jadi pemimpin. Banyak orang pengen berkuasa, membuat semua keputusan dan menentukan semua kebijakan dalam sebuah organisasi. Ada suatu privilege yang dimiliki oleh seorang pemimpin, namun ada suatu tanggung jawab yang besar yang diemban di pundak seorang pemimpin. Sebagaimanapun kita berbicara bahwa kesuksesan sebuah tim merupakan kerjasama dari seluruh anggota tim tersebut, pemimpin tetap mempunyai andil 60-80% terhadap kesuksesan sebuah tim. </p>
<p>Baru2 ini, ada kejadian di Cile yaitu peristiwa terjebaknya 33 orang petambang di kedalaman 700 meter di bawah permukaan Bumi, dan ada seorang yang menunjukkan suatu kepemimpinan yang inspiratif, yaitu Presiden Sebastian Pinera. Pinera memperlihatkan kepemimpinan yang desicive dan inspiratif dan caranya menangani peristiwa terjebaknya menunjukkan bagaimana Pinera memandang situasi kritis ini.<br />
Bagi kalian para pemimpin, mari kita sama sama share di wacana ini, dan for leader-to-be, tulisan ini akan membantu dalam memberi gambaran bahwa kepemimpinan tidak semudah yang anda pikirkan.</p>
<p><strong>1. Pinera memiliki keyakinan teguh bahwa pasti ada jalan keluar dari kesulitan yang mencemaskan ini.</strong></p>
<p><em>Tatkala Menteri Pertambangan Laurence Golborne menyatakan bahwa tipis kesempatan untuk menemukan kembali para petambang dalam keadaan hidup, Pinera tidak mau menyerah. Ia mengatakan akan melakukan apa saja yang bisa dilakukan manusia untuk mengatasi peristiwa ini. Ia yakin masih ada jalan untuk mengeluarkan para petambang dalam keadaan hidup.</em></p>
<p>Apakah kita sebagai pemimpin mempunyai keyakinan. Keyakinan bahwa akan ada masa depan yang cerah untuk organisasi yang kita pimpin? Apakah kita mempunyai suatu <strong>FAITH</strong> bahwa masih ada harapan untuk organisasi kita ini untuk menuju kea rah yang lebih baik? Apakah kita masih punya iman bahwa  semua situasi ini akan berubah menuju ke suatu titik yang lebih baik. Inilah tes pertama buat seluruh pemimpin, <strong>apakah pemimpin itu punya keyakinan terhadap orang2 yang dipimpinnya? Terhadap organisasi yang dipimpinnya? Walaupun orang2 terdekat mu, bilang,” kondisi sudah ga mungkin berubah, tanpa duit, tanpa sumberdaya, tanpa faktor2 produksi” MASIHKAH IMAN ITU ADA PADAMU, WAHAI PEMIMPIN??</strong></p>
<p><strong>2. Pinera tahu persis apa yang harus secepatnya ia lakukan dan bahwa ia tidak bisa bekerja sendiri.</strong></p>
<p> <em>Ia meminta bantuan NASA yang ahli mengenai perilaku manusia dalam ruang terbatas. Ia mengundang psikolog untuk membantu menangani situasi kejiwaan mereka yang terjebak. Ia mengajak ahli gizi dan tentu saja ahli tambang untuk membuat terowongan baru dan mengangkat para petambang dengan aman.</em></p>
<p>Saya kagum sekali disini dengan Pinera. <strong>DIA MELAKUKAN APAPUN YANG BISA DILAKUKAN</strong> untuk hanya sekedar menyelamatkan 33 orang dari 19 juta penduduknya. Saya yakin menyewa NASA dan Psikolog bukan barang murah, hanya untuk 33 orang dari 19 juta orang?? Namun dia tetap melakukannya karena dia tahu bahwa <strong>THIS IS WHAT HE SHOULD DO, and he give 110% effort to do it. </strong><br />
Wahai pemimpin, how far do you want to go to even mengurusi small little thing yang ga terlalu berarti di organisasimu? Its not the result, in my opinion, but the<strong> EFFORT </strong>that inspires the most. <strong>HOW FAR CAN YOU GO?? Or HOW FAR WILL YOU GO??</strong><br />
<strong><br />
3.  Pinera memperlihatkan pendekatan kemanusiaan yang kuat dalam menangani masalah ini.</strong><br />
 <em>Rasa empati ditunjukkannya dengan membatalkan rencana kunjungan ke Eropa dan memilih menunggui pelaksanaan evakuasi petambang dari bawah tanah. Dengan cara ini, Pinera membangun solidaritas kemanusiaan yang menggugah, bukan saja rakyat Cile sendiri tapi juga warga dunia di belahan Bumi lainnya.</em></p>
<p>Sebagai pemimpin yang kita atur adalah manusia. Bukan mesin, bukan system. Namun ya, yang lucu adalah betapa banyak pemimpin lebih memperhatikan aturan, SOP, dan malah lupa bahwa yang diatur adalah manusia yang mempunyai perasaan, yang mempunyai kehendak dan pikiran, dan merupakan hal yang paling susah diatur. <strong>MEMANUSIAKAN MANUSIA</strong>, itu adalah suatu prinsip kepemimpinan yang sanagat saya percaya, dan haruslah menjadi pedoman kita semua sebagai pemimpin. </p>
<p><strong><br />
4. Pinera lentur dalam mengatasi peraturan tanpa harus melanggarnya. </strong></p>
<p><em>Perusahaan tambang negara dan swasta diminta menyisihkan dana untuk membantu operasi penyelamatan. Dalam situasi kritis, seorang pemimpin yang decisive harus berani mengambil keputusan: mengikuti aturan yang kaku atau mencari celah-celah tanpa melanggarnya demi menyelamatkan nyawa puluhan manusia. Tanpa harus berhitung njelimet, Pinera memerintahkan jaksa untuk memaksa perusahaan agar gaji petambang yang terjebak diberikan kepada keluarganya. Ia telah menggunakan kewenangan yang diberikan negara untuk kemaslahatan manusia. Peraturan dibuat memang untuk memudahkan, mengamankan, dan menertibkan cara manusia bekerja. Namun, fleksibilitas diperlukan di saat kritis.</em></p>
<p>Nah ini jujur yang saya rasa paling berat. Kadang walau niat kita sebagai pemimpin yang baik itu ada, namun kita juga punya tanggung jawab tidak hanya di pekerjaan kita, namun di sekolah, keluarga, organisasi keagamaan, dan lain2. Seolah2 diri kita terbagi2 dengan berbagai topi yang harus kita pakai. Ditambah lagi kadang kita di organisasi kita, kita bukan pemimpin puncak. Kita masih harus bertanggung jawab kepada pemimpin kita. Di posisi tengah ini kadang sangat rumit, dan niat luhur pemimpin aja kadang ga cukup.<br />
Kalian ingin menjalankan prinsip2 kepemimpinan dengan baik, ingin spend waktu sama bawahan kalian, ingin meluangkan waktu untuk mengatur program2 yang baik namun:</p>
<p>	Waktu ga cukup, harus meluangkan waktu dengan pasangan, keluarga dan organisasi lain<br />
	Pemimpin di atas kalian ga suka, dan semua ide2 kita dimentahkan<br />
	Aturan2 dan SOP yang kaku, dan kalian ga bisa melanggar nya untuk mengerjakan program2 atau kegiatan2 yang kalian sudah ada di kepala.</p>
<p><strong>SAYA PERCAYA BANGET BAHWA WALAUPUN KALIAN PARA PEMIMPIN PUNYA NO 1 ,  NO 2, DAN NO 3, TAPI TANPA KECAKAPAN YANG CUKUP UNTUK MELEWATI YANG NO.4, LU GA AKAN PERNAH BISA MENJADI PEMIMPIN YANG MAKSIMAL, </p>
<p>KENAPA??</p>
<p>KARENA FAKTOR 1, FAKTOR 2 DAN FAKTOR 3 BERSUMBER DARI DALAM DIRI DAN DAPAT KITA KONTROL!!. NAMUN FAKTOR 4 INI ADALAH FAKTOR EXTERNAL!! BAHKAN SAYA BERANI BILANG INILAH YANG PALING MENENTUKAN APAKAH ANDA SEORANG PEMIMPIN YANG HEBAT ATAU TIDAK!<br />
</strong></p>
<p>Keluwesan anda melewati no 4 inilah yang benar2 merupakan tantangan buat pemimpin kebanyakan, termasuk saya. Anda sebagai pemimpin akan digoverned oleh aturan2 baik aturan2 perusahaan, undang2 negara ataupun aturan2 sosial sebagai seorang ayah, ibu, anak, kerabat, pemimpin agama, dengan berbagai topi2nya dalam society.  Dan kadang anda ga punya kuasa untuk remove hal2 tersebut. Yang anda harus lakukan adalah fleksibilitas dalam melewati semua ini. Dan disinilah skill sebagai pemimpin betul2 diuji. </p>
<p><strong><br />
Kembali ke Pinera….</strong></p>
<p>Pria berusia 60 tahun dengan beragam identitas-ekonom, dosen, investor, pebisnis, politikus, dan kini presiden-ini telah memberi contoh bagaimana kepemimpinan ditegakkan. Mungkin ada yang mengatakan, ia memimpin sebuah negeri dengan penduduk hanya 17 juta jiwa. Dalam hemat saya, kepemimpinan bukan ditunjukkan oleh seberapa banyak orang yang dipimpin, melainkan melekat sebagai karakter.<br />
Kepemimpinan Pinera pantas menjadi inspirasi bagi kita di sini yang tinggal beribu mil dari negeri Cile di Amerika Selatan itu.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ivanlukather.wordpress.com/229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ivanlukather.wordpress.com/229/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ivanlukather.wordpress.com/229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ivanlukather.wordpress.com/229/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ivanlukather.wordpress.com/229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ivanlukather.wordpress.com/229/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ivanlukather.wordpress.com/229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ivanlukather.wordpress.com/229/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ivanlukather.wordpress.com/229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ivanlukather.wordpress.com/229/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ivanlukather.wordpress.com/229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ivanlukather.wordpress.com/229/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ivanlukather.wordpress.com/229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ivanlukather.wordpress.com/229/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ivanlukather.wordpress.com&amp;blog=4174603&amp;post=229&amp;subd=ivanlukather&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ivanlukather.wordpress.com/2010/10/16/serba-serbi-kepemimpinan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">ivanlukather</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Keyakinan- 2</title>
		<link>http://ivanlukather.wordpress.com/2010/05/02/keyakinan-2/</link>
		<comments>http://ivanlukather.wordpress.com/2010/05/02/keyakinan-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 02 May 2010 17:00:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ivanlukather</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ivanlukather.wordpress.com/?p=220</guid>
		<description><![CDATA[Sebelum baca ini, ini lanjutan dari posting pertama soal keyakinan. BACA DISINI Darimana asal keyakinan kita? Keyakinan datang dari model dari orang2 berpengaruh sekitar kita. Guru, orangtua, mentor, pembimbing rohani.Keyakinan itu ada 2: Keyakinan yang memberdayakan kita, atau keyakinan yang menghancurkan kita, dan orang2 sekitar kita, siapapun mereka punya kemungkinan untuk memberi keyakinan yang memberdayakan, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ivanlukather.wordpress.com&amp;blog=4174603&amp;post=220&amp;subd=ivanlukather&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebelum baca ini, ini lanjutan dari posting pertama soal keyakinan. <a href="http://ivanlukather.wordpress.com/2010/05/02/keyakinan-1/">BACA DISINI</a></p>
<p>Darimana asal keyakinan kita?</p>
<p>Keyakinan datang dari model dari orang2 berpengaruh sekitar kita. Guru, orangtua, mentor, pembimbing rohani.Keyakinan itu ada 2: Keyakinan yang memberdayakan kita, atau keyakinan yang menghancurkan kita, dan orang2 sekitar kita, siapapun mereka punya kemungkinan untuk memberi keyakinan yang memberdayakan, atau keyakinan yang menghancurkan.</p>
<p>Keyakinan itu adalah seperti sebuah papan meja, dan bukti2 itu adalah kaki2nya. Keyakinan yang bagaikan papan meja itu hanyalah gagasan tanpa bukti yang menopangnya. Tapi, setelah kita mengalami bukti2 yang mendukung dalam hidup kita, itu bagaikan memasangkan kaki ke meja tersebut. Sampai kaki itu cukup jumlahnya, kuatlah meja tersebut ( keyakinan kita). Mari gunakan contoh:</p>
<p>Keyakinan: <em>Saya tidak pintar. (</em> Ini baru gagasan doank!!, mungkin terlontar dari kata orang tua mu,” Kamu koq dodol sich ”, atau terlontar dari kata gurumu, ” Ngitung perkalian aja ga bisa, bodoh banget sih »)</p>
<p>Keesokan harinya:</p>
<p><em>Bukti satu: Ujian perkalian: DAPET 20. ( Kaki 1 mulai ada)</em></p>
<p>Mulai males2 an di kelas, ujian ga usah belajar, maen Counter Strike aja!! Besoknya, ditanyain di kelas saat ngelamun CounterStrike, “ Budi, apa tujuan Belanda datang ke Indonesia. ‘ Budi jawab, ‘ Bebasin hostage’. ( SALAHHHHH !!!)</p>
<p><em>Bukti ke 2 : Salah jawab di kelas ( Kaki 2)</em></p>
<p>Pulang2, cerita ke mami, “ Mi, ujian ku koq ga bisa semua. Mami jawab,” Sama donk, mami dulu juga 0 mulu kalo matematik, apalagi sejarah!!. Turunan kali ya”</p>
<p><em>Bukti 3: Ortu aja bodoh = turunan ( kaki ke 3)</em></p>
<p><em>Akhirnya bagi raport, ga naek kelas ( Bukti ke 4/ kaki ke 4)</em></p>
<p>Ujung2 nya: <strong>SAYA YAKIN </strong>saya bodoh, liat aja 4 bukti di atas. Bagaikan meja yang sudah dipasang kaki2 nya, kokohlah keyakinan itu.</p>
<p>Wah gawat!! Lalu, bagaimana cara mengubahnya????? Ikuti langkah2 dibawah ini:</p>
<p>1.Temukan alasan yang cukup untuk berubah. Lama2 anda pasti nyadar, “ wah saya harus berubah ni, kalo mikir gini terus bisa bodoh beneran. Bisa ga berguna di masyarakat.” Fakta:  Banyak dari kita ga berubah karena kita ga puas dengan hasil yang kita peroleh, namun kita ga cukup menderita dengan status quo. Oleh sebab itu, <strong>TEMUKAN KEHARUSAN </strong>untuk berubah. Baca pentingnya bersikap “HARUS” <a href="http://ivanlukather.wordpress.com/2010/04/26/seharusnya-vs-keharusan/">DISINIII!!</a></p>
<p>2.<strong>HANCURKAN KAKI2 NYA!! </strong>Hilangkan bukti2 yang menghambat. Carilah bukti2 bahwa itu salah. “Jelas aja ujian jelek, ga belajar, malah main CS” . “Banyak koq yang orang tuanya ga lulus SD, tapi anaknya jadi dokter, insinyur, dll”. Goyahkan fondasi dari keyakinan yang menghambat itu. </p>
<p>3.Ciptakan keyakinan baru dan temukan kaki2nya, bangunlah mengikuti proses yang sama saat anda membangun kepercayaan yang salah, namun skrg adalah yang benar. Baca buku2 , temukan inspirasi, saat anda melihat bukti2 dari orang2 yang jauh lebih sukses, yang berhasil melalui apa yang anda lalui dengan gemilang, anda akan mendapat kekuatan baru. </p>
<p>4.Melangkah maju dan hubungkan semua pengalaman baru anda dengan manfaat dari keyakinan baru tersebut. </p>
<p>Jelas kan bro/ sis…so…don’t let wrong belief determines your future. Instead, have a positive belief, and build your life around it. Success is what waits at the ends. </p>
<p>Salam sukses.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ivanlukather.wordpress.com/220/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ivanlukather.wordpress.com/220/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ivanlukather.wordpress.com/220/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ivanlukather.wordpress.com/220/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ivanlukather.wordpress.com/220/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ivanlukather.wordpress.com/220/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ivanlukather.wordpress.com/220/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ivanlukather.wordpress.com/220/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ivanlukather.wordpress.com/220/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ivanlukather.wordpress.com/220/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ivanlukather.wordpress.com/220/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ivanlukather.wordpress.com/220/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ivanlukather.wordpress.com/220/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ivanlukather.wordpress.com/220/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ivanlukather.wordpress.com&amp;blog=4174603&amp;post=220&amp;subd=ivanlukather&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ivanlukather.wordpress.com/2010/05/02/keyakinan-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">ivanlukather</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Keyakinan- 1</title>
		<link>http://ivanlukather.wordpress.com/2010/05/02/keyakinan-1/</link>
		<comments>http://ivanlukather.wordpress.com/2010/05/02/keyakinan-1/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 02 May 2010 16:58:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ivanlukather</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ivanlukather.wordpress.com/?p=218</guid>
		<description><![CDATA[Seberapa besar pengaruh sebuah keyakinan buat sukses anda? Jawabannya: Sangat besar sekali. Bahkan saya berani bilang bahwa keyakinan bisa menentukan anda jadi miliuner dengan total asset 10 juta trilliun atau jadi orang biasa2 aja yang dalam hidupnya Cuma kerja untuk nutup biaya bulanan, sampe anda umur 50 tahun ( Yg guess what? Inilah rata rata [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ivanlukather.wordpress.com&amp;blog=4174603&amp;post=218&amp;subd=ivanlukather&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seberapa besar pengaruh sebuah keyakinan buat sukses anda? Jawabannya: Sangat besar sekali. Bahkan saya berani bilang bahwa keyakinan bisa menentukan anda jadi miliuner dengan total asset 10 juta trilliun atau jadi orang biasa2 aja yang dalam hidupnya Cuma kerja untuk nutup biaya bulanan, sampe anda umur 50 tahun ( Yg guess what? Inilah rata rata penduduk dunia. 80% orang yang saya kenal kaya begini ni)</p>
<p>Keyakinan dapat membuat seseorang melakukan hal yang luar biasa, namun  bila berpegang pada keyakinan yang menghambat, maka orang berbakat pun bisa gagal. Anehnya, keyakinan selalu terletak saat kita belum melihat itu namun percaya, either itu hal baik atau hal buruk.</p>
<p>Contoh: Wright Bersaudara, siapa mereka? Tukang reparasi sepeda. Ada yang sudah pernah terbang sebelum mereka? Boro boro. Baik Bell ( penemu telepon), Edison ( penemu lampu), bahkan King David ( dalam sejarah), semua punya satu kesamaan. Di depan mereka, ada suatu keadaan yang tidak mungkin, tidak pernah terjadi, dan diluar jangkauan kepala/ logika mereka, atau kepala orang2 saat itu. Namun mereka melihat “ MELEBIHI” yang ada di alam nyata. Mereka bisa “MEMVISUALISASI” apa yang mungkin dan akan dan bisa terjadi. Mereka mampu “MELIHAT” jauh ke depan dari apa yang dilihat orang2 atau keadaan2 disekitarnya, sehingga mereka “TAKE ACTION” untuk mewujudkannya. Darimana sumber action mereka? </p>
<p>Jawab: Keyakinan!!!!</p>
<p>Nah untungnya keyakinan mereka positif kan. Makanya beres: Coba kalo keyakinan orang2 dibawah ini yang terus dipelihara, apa jadinya:</p>
<p>1.	“Manusia tidak akan pernah mencapai bulan”- Dr. Lee Forest, Bapak Radio dan penemu tabung radio<br />
2.	“Bumi adalah pusat alam semesta”- Ptolemy, Astronom terkenal abad 2<br />
3.	“Tidak mungkin manusia dapat memanfaatkan kekuatan atom”- Robert Miliken, Pemenang Nobel Fisika 1923<br />
4.	“Televisi tidak akan ditonton. Orang akan lelah menatap kotak kayu sepanjang malam”. – Darryl F. Zanuck- Pimpinan 20th Century Fox, 1946<br />
5.	“Rekor berlari 1 mil dalam waktu 4 menit 12.75 detik tidak akan pernah pecah”- Harry Andew pelatih Olympiade Inggris 1903</p>
<p>Nah apa jadinya kalo keyakinan orang2 ini diterima khalayak ramai, mempengaruhi khalayak ramai. Orang2 ini bukan orang bodoh. Mereka merupakan astronom, penemu, bahkan pemenang nobel fisika. Nah, bayangkan kalo orang2 di atas ini adalah orang tua mu, guru mu, mentor mu, atau orang yang engkau percaya. Apa jadinya dirimu? Keyakinan model apa yang akan engkau punya? Dan apa efeknya buat masa depannmu?</p>
<p>Mengenai cerita no 5,  tanggal 6 Mei 1954, Roger Bannister menempuh satu mil dalam waktu 1 menit 54 detik. Tapi yang mengagumkan adalah, dalam waktu setahun , 37 pelari lain memecahkan rekor tersebut. Dalam waktu 3 tahun, 300 pelari memecahkan pencapaian tersebut. Tapi kenapa sebelum Roger, selama hampir 50 tahun, rekor itu ga pecah2 juga? </p>
<p>Moral: Watch out of what is inside your head. Your head determines your action. Your action determines your success. Keyakinan mu bisa membawa engkau terbang ke langit, atau membawa engkau tenggelam dan bahkan ga pernah muncul lagi. Keyakinan yang menghambat atau membatasi dapat benar2 membuat anda terpuruk sampai anda tidak akan punya kaki lagi untuk bangkit. </p>
<p>Nah, lantas kalo saya sudah punya keyakinan yang kacau, bagaimana mengubah keyakinan?? <a href="http://ivanlukather.wordpress.com/2010/05/02/keyakinan-2/">KLIK DISINI!!</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ivanlukather.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ivanlukather.wordpress.com/218/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ivanlukather.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ivanlukather.wordpress.com/218/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ivanlukather.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ivanlukather.wordpress.com/218/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ivanlukather.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ivanlukather.wordpress.com/218/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ivanlukather.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ivanlukather.wordpress.com/218/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ivanlukather.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ivanlukather.wordpress.com/218/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ivanlukather.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ivanlukather.wordpress.com/218/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ivanlukather.wordpress.com&amp;blog=4174603&amp;post=218&amp;subd=ivanlukather&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ivanlukather.wordpress.com/2010/05/02/keyakinan-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">ivanlukather</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
